Konsep Kepribadian Muslim

Bangsa indonesia telah memiliki falsafah hidup pancasila, yang sekaligus menjadi falsafah pendidikan nasional, juga mempunyai cita-cita membangun dan membentuk kepribadian bangsa yaitu kepribadian manusia seutuhnya yang memiliki ciri-ciri khas sebagai bangsa indonesia.
Bahwa pembangunan bangsa dan watak bangsa harus dimulai dengan membangun manusia seutuhnya, sebagai peran pada manusia pancasila. Realisasi kepribadian ini memberikan suatu keputusan yang ideal adalah manusai seutuhnya sehinga perlu adanya pemikiran yang konseptual tentang terwujudnya manusia seutuhnya tersebut.
Bahwa hakekat martabat manusia adalah merupakan kesatuan yang integral, yang meliputi:
a. Manusia sebagi makhluk individu
b. Manusia sebagai makhluk sosial
c. Manusia sebagai makhluk susila
d. Manusia sebagai makhluk ber-Tuhan.58
Untuk memberi gambaran yang lebih jelas, maka penulis akan menguraikan sebagai berikut:
a. Manusia sebagai makluk individu.
Manusia sebagai makhluk individu, berarti manusia merupakan keseluruhan yang tak bisa dibagi. Sehingga dapat diambil suatu pengertian, bahwa manusia tidak dapat dipisahkan antara jiwa dan raganya, rohani maupun jasmaninya. Sehingga kegiatan jiwa manusia dalam kehidupan sehari-hari merupakn kegiatan keseluruhan jiwa raga yang tak terlepas dari yang lain.
Hal ini sesuai dengan konsep Islam tentang kepribadian individualitas manusia. Dimana manusia secara individual harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya, firman Allah dalam surat Al-Baqoror ayat 286 sebagai berikut:
لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ (البقره: ۲٨٦)
Artinya: Allah tidak Membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.59.(Al-Baqoroh:286).
b. Manusia sebagai makhluk sosial
manusia secara hakiki merupakan makhluk sosial. Sejak lahir manusia memerlukan pergaulan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan biologinya dan lain-lain. Tanpa pergaulan hidup dengan sesama manusia, maka manusia yang baru lahir tidak akan dapat menjadi manusia yang sebenarnya.
Didalam konsep Islam tentang sosialitas manusia menghendaki agar setiap orang Islam selalu memelihara hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, serta menanamkan rasa persaudaraan dan tolong menolong antar sesamanya.60 sebagaimana firman Allah surat Al-Maidah ayat 2 sebagai berikut:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمْ وَالْعُدْوَانِ ( المائدة: ۲)
Artinya: Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran.61 (Al-Maidah:2).
Dengan demikian Islam menghendaki agar setiap muslim untuk mengembangkan keseimbangan antar kehidupan individu dan kehidupan sosial.
c. Manusia sebagai makhluk susila.
Secara firah manusia memiliki kekuatan moral yang dibawa sejak lahir dan berkembang bersama dengan perkembangan pribadinya.
Manusia dilahirkan dalam kehidupan masyarakat yang sudah jadi, dimana manusia sudah memiliki nilai-nilai baik dan buruk diantara tingkah laku, serta norma sosial yang harus dijalankan. Dalam konsep Islam, moral menimpati tempat paling utama setelah manusia beriman kepada Allah,62 hal ini sesuai dengan firman Allah yang mengkaitkan tentang iman dan amal sholeh dalam surat An-Nisa’ ayat 124:
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصّلِحَةِ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولئِكَ يَدْخُلُوْنَ الُجَنَّةَ
وِلاَيُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا ( النساء: ۱۲٤)
Artinya: Barang siapa mengerjakan amal sholeh baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam sorga dan mereka tidak dianiaya walaupun sedikit.63 (An-Nisa’:124).
d. Manusia sebagai makhluk bertuhan.
Setiap manusia pasti membutuhkan adanya pedoman hidup yang berupa agama, karena agama merupakan firah manusia yang telah dibawa sejak lahir, bahkan waktu manusia masih berada didalam arwah, mereka sudah mengakui adanya Tuhan atau Allah.64 Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-A’raaf ayat 172.
وَاِذْ أًخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِيْ ادَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلَى اَنْفُسِهِمْ اَلَسْتُ
ِبرَبِّكُمْ قَالُوْا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هذَا غفِلِيْنَ
(الاعراف : ۱٧۲)
Artinya: Dengan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan anak cucu adam dari tulang belakang mereka dan dia jadikan mereka itu saksi atas diri mereka. Allah berfirman,”Bukankah aku itu Tuhanmu?”Mereka menjawab,”Benar, kami menjadi saksi yang demikian itu agar kamu tidak berkata pada hari kiamat,” Sesungguhnya kami lalai dari ini.65 (Al-A’rof: 172).
Bertolak dari ayat-ayat diatas, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya setiap manusia itu telah membawa potensi dasar atau kodrat untuk beragam Islam, kalau mereka menganut agam-agama lain, itu adalah disebabkan karena pengaruh pendidikan atau lingkungan.

 

 

 

About yus2812 WebPress
Hi, My name is Muhamad Yusuf. My nick name is Yus. I live in Probolinggo. I work as teacher in the Minestry of Religion Kota Probolinggo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: